Hidup menjadi mudah melalui kebun sayur keluarga

Meta, salah seorang putri Fransiska, yang menyiram benih kangkungmenggunakan selang air yang dibeli dari hasil panen sayuran sawi dan brokoli.Kita semua senang karena lebih mudah untuk mengairi tanaman menggunakanselang air, tidak perlu menggunakan ember yang kami ambil dari sumur yang jauh

Di desa Wailiti, kabupaten Sikka, Nusa tenggara Timur, Indonesia tempat dimana kami tinggal dan mengelola lahan kebun sayur keluarga, saat ini sedang mengakhiri musim kemarau dan menjelang musim penghujan. Sehingga sangat dibutuhkan banyak air untuk menyirami tanaman tersebut. Kami juga baru saja selesai menanam bibit tanaman kangkung cabut.

Puji Tuhan, berkat hasil panen sayur sawi dan brokoli yang kami tanam di lahan yang sama, dan dengan tambahan dana yang kami peroleh dari bantuan dari MicroAid, maka kami bisa membeli mesin pompa air baru. Hal ini bisa memudahkan kami untuk menyirami tanaman kami. Saat ini kami bisa menyirami tanaman dengan menggunakan selang air dan tidak perlu susah lagi menggunakan ember seperti sebelumnya.

Kami sangat senang. Berulang kali kami mensyukuri rahmat Tuhan ini. Semua menjadi mudah sekarang, mudah menyirami tanaman karena menggunakan selang air, mudah merawat kebun karena seluruh anggota keluarga turut membantu dan mudah menjual hasil panen karena pembeli dari pasar datang langsung ke kebun kita untuk membeli hasil panen. Terima kasih kepada Toby Beresford dan keluarga yang telah berkunjung tahun lalu dan memberi bantuan untuk dana pelatihan-pelatihan bagi kelompok keluarga kami.

Fransiska beserta 4 ibu rumah tangga tetangganya dengan dibantu anak-anak mereka, saat ini sibuk mengurus kebun sayur yang dikelola oleh kelompok keluarga. Awal mulanya mereka hanya mengelola kebun sayur seluas 100 m2 yang ditanaman tanaman kol. Namun karena banyak yang berminat dengan hasil kebun mereka, maka saat ini mereka bisa menambah luas area kebunnya menjadi 400 m2 dengan tanaman kangkung, sawi dan brokoli.

Baca laporan proyeknya disini

Bila Anda ingin membeli hasil panen kami, silahkan berkunjung ke desa kami…

Fransiska dan kelompok keluarga,
Wailiti, Sikka, Nusa Tenggara Timur


Lampu sederhana dari botol air bekas

Lihat bagaimana sebuah teknologi sederhana bisa membantu kehidupan keluarga tertinggal. 
Bukan proyek MicroAid, tapi sebuah ide cemerlang!
Lihat videonya disini
Apakah Anda memiliki ide cemerlang lainnya? Mari kita berbagi disini

Kios jahit pertamaku

Saya Magdalena, tinggal bersama 2 orang anak yang masih sekolah di Sekolah Dasar Negeri di Desa Magepanda, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Sejak bulan Agustus 2011 lalu saya sudah mulai menerima pesanan jahitan untuk pakaian perempuan dan taplak meja.

Saya sedang menjahit taplak meja. Ibu Marselina (yang meminjamkan mesin jahit miliknya kepada saya) tampak sedang membimbing saya

Saya bersyukur bisa mulai merintis usaha kecil ini karena telah memperoleh keterampilan dari MicroAid Projects yaitu pelatihan menjahit dan menggunakan mesin obras yang dilaksanakan selama 2 hari bersama sahabat saya Marselina, Agustina dan Mely. Pelatihan yang kami ikuti dibulan Juni 2011 lalu didanai oleh donatur MicroAid Projects (lihat laporan kami disini).

Satu minggu setelah pelatihan itu, kami mengadakan bazaar di depan halaman gereja tempat kami setiap hari Minggu sembahyang bersama. Dalam bazaar itu kita menjual semua hasil pelatihan kami, yaitu taplak meja, bendera serta kue kering yang dibuat oleh kelompok lain. Untuk kelompok menjahit dimana saya sebagai anggotanya, kita mendapat uang Rp 320.000 dari hasil penjualan 5 taplak meja dan 3 bendera. Kemudian uang itu kami masukkan dalam tabungan kelompok.

Saya kemudian berinisiatif meminjam uang kelompok sebesar Rp 100.000 sebagai modal saya membeli benang dan peralatan jahit seperti jarum, gunting, alat ukur dan lain-lain. Saya akan mengembalikan pinjaman itu dengan dicicil selama 4 bulan ditambah bunga 1%. Sedangkan alat jahit (bukan mesin) saya pinjam dari teman saya Marselina, yang berbaik hati meminjamkan alatnya kepada saya setiap hari Sabtu dan Minggu.

Saya (berkaos merah) sedang mengikuti pelatihan menjahit bersama teman-teman

Rata-rata setiap bulan saya menerima 10 pesanan dari tetangga di desa untuk menjahit taplak meja. Satu buah taplak meja saya jual dengan harga Rp 55.000 dan keuntungan bersih yang saya dapat sekitar Rp 25.000. Jadi dalam satu bulan saya bisa memperoleh uang sebesar Rp 250.000. Uang ini cukup besar bagi saya karena sebelumnya saya tidak menghasilkan uang sendiri. Suami saya seorang tukang ojek motor di desa.

Saya senang karena sekarang bisa membantu pendapatan bagi keluarga saya dan bisa menggunakan waktu yang saya miliki untuk kegiatan yang menghasilkan uang. Terima kasih kepada bapak dan ibu donatur yang pernah memberi kesempatan kepada saya dan teman-teman untuk belajar menjahit.

Salam penuh kasih,
Magdalena


Zakat Anda lebih dari sekedar untuk makan

Assalammualaikum Wr. Wb.

Selamat menjalankan ibadah puasa.
Semoga ibadah puasa Anda diterima oleh Allah SWT dan memberi manfaat baik bagi siapapun.

Mulai tahun 2011 (1432 Hijriyah) ini, saya bersama MicroAid ingin membantu menyalurkan zakat dari siapapun yang ingin memberikan zakatnya kepada kelompok-kelompok keluarga miskin yang ada di Indonesia, Pakistan, Bangladesh, India, Kenya dan Uganda.

Seorang ibu sedang menjahit pakaian untuk memenuhi pesanan pembeli. Keterampilan menjahit menjadi modal awal si ibu untuk memulai usahanya

Zakat yang Anda berikan akan langsung disalurkan kepada kelompok-kelompok keluarga yang ingin belajar keterampilan baru. Keterampilan baru ini seperti: belajar membuat keripik pisang, belajar menjahit, belajar berkebun sayur dan lain-lain.

Kenapa Anda perlu membantu mereka?
Karena dengan keterampilan yang dimiliki nanti, maka mereka punya kemampuan untuk membuka peluang usaha baru skala kecil di kelompok / keluarganya. Dengan memiliki kemampuan membuka usaha keluarga ini, maka mereka diharapkan akan hidup mandiri dan tidak tergantung dengan bantuan dari orang lain lagi untuk kehidupan keluarganya. Zakat yang Anda berikan tidak sekedar hanya untuk memberi mereka makan 1 hari, tapi untuk meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

Membuat hidup keluarga lain menjadi mandiri adalah tujuan utama dari zakat yang Anda berikan.
Anda bisa baca cerita-cerita keluarga yang telah berhasil hidup mandiri disini.

Berikan bantuan Anda sekarang.
Terima kasih.

Walaikumsalam Wr.Wb.


Tujuh keluarga menggapai keberhasilan melalui kebun sayur kelompok

Sebuah cerita keluarga dari desa Waility, Nusa Tenggara Timur.

Fransiska (dengan jempolnya), Katharina, Bibiana, Kartini dan Ester Ngole menunjukkan kegembiraannya  saat berhasil melakukan panen pertama di kebun sayur kol kelompok mereka

Kebun sayuran di Desa Waility, Indonesia adalah sebuah kebun kecil kelompok yang dikelola oleh tujuh keluarga yang menerima pelatihan bagaimana membuat kebun sayur kelompok yang didanai oleh donatur MicroAid. Luas kebun sayur itu saat ini hanya sekitar 400 meter persegi. Ini akan diperluas kemudian, sebagai hasil dari penjualan sayuran dari awal panen pertama masuk.

Sebulan lalu, sayur kubis telah dipanen untuk pertama kalinya dan berhasil menjual 340 buah kubis. Harga jual per kubis Rp 6.000 sehingga jumlah uang yang diperoleh sebesar Rp 2.040.000. Uang itu kemudian dibagi rata untuk tujuh keluarga, sehingga setiap keluarga menerima Rp 291.000. Panen kubis dilakukan setiap 4 minggu sekali.

Untuk meningkatkan pendapatan keluarga lebih lanjut, kelompok ibu-ibu akan memperluas wilayah kebun sayuran dengan tanaman sayur sawi. Uang dari panen kubis akan digunakan untuk membeli biji sawi dan akan ditanam di dekat kebun yang ada.

Ini ide yang baik karena untuk memperluas kebun bisa mereka lakukan sendiri. Mereka ingin menanam tanaman yang cepat menghasilkan sayuran dan mendapatkan harga yang lebih baik. Sayur sawi adalah pilihan mereka. Jika mereka berhasil dengan panen sawi, maka setiap keluarga akan mendapatkan tambahan sekitar Rp 300.000 per bulan. Bila digabungkan dengan pendapatan dari penjualan sayur kol, maka jumlah pendapatan setiap keluarga menjadi sekitar Rp 600.000 per bulan.

Sekarang kelompok keluarga tersebut masih membutuhkan bantuan untuk memperbaiki sumur yang ada agar mereka dapat lebih mudah menyirami tanamannya. Saat ini mereka menggunakan ember kecil yang digunakan secara bergantian oleh tujuh keluarga tersebut.


Kunjungan persahabatan ke Maumere

Kami membuat perjalanan panjang ke Maumere, Propinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia pada bulan Mei 2011. Toby dan Amber Beresford dan Jalu melakukan kunjungan persahabatan ke kota Maumere, Kabupaten Sikka, untuk melihat dari dekat pelaksanaan proyek mikro yang telah didanai melalui MicroAid. Kami ingin melihat bagaimana kondisi sebenarnya dari keluarga-keluarga yang telah dibantu dan apa perkembangan mereka saat ini.

Amber sedang melihat cara kerja pembuatan kain tenun

Perjalanan dimulai dengan terbang dari Jakarta ke Denpasar (Bali) dan kemudian menggunakan pesawat baling-baling kecil ke Maumere. Total perjalanan membutuhkan waktu 9 jam. Selama kunjungan 2 hari itu, kami bertemu langsung dengan lembaga mitra MicroAid dan keluarga yang telah melaksanakan Proyek MicroAid. Semua sangat antusias dengan kunjungan kami karena sangat jarang bisa bertemu langsung mengingat selama ini hanya melihat nama dan foto melalui web site MicroAid.

Pada kunjungan ini, kami bertemu dengan kelompok keluarga MicroAid yang telah belajar membuat produk usaha keluarga dan bagaimana mereka bisa meningkatkan kesejahteraan keluarganya melalui pelatihan:

  • Kebun sayur brokoli dan sawi 
  • Pembuatan pupuk organik  
  • Membuat kain tenun ikat dengan alat sederhana 
  • Pengolahan kacang mete 
  • Analisa kesehatan keluarga

Berikut adalah foto-foto kunjungan kami. Mudah-mudahan, kunjungan persahabatan ini telah memberikan dukungan moral dan material bagi keluarga dan komunitas lembaga mitra MicroAid. Saat ini telah banyak kelompok keluarga yang memiliki keterampilan usaha dan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka. Tetapi masih banyak yang harus dilakukan dan kami pergi dengan tekad untuk mencoba berbuat lebih banyak dengan bantuan Anda.

Lihat album foto kami disini