Ibu terampil, keluarga bahagia

Fransiska (belakang kanan) bersama suami dan anak-anaknya. Melalui panen kebun sayur kol, sekarang Fransiska bisa menyekolahkan anak-anaknya

Sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang tua untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya. Tetapi bagaimana bila keluarga tersebut adalah keluarga miskin yang hidupnya serba kekurangan?

Pemberdayaan keluarga menjadi salah satu kata kunci untuk mengentaskan kemiskinan sehingga keluarga tersebut bisa menyekolahkan anak-anaknya secara mandiri.

Foto diatas adalah keluarga Thomas dengan 4 anak yang masih sekolah dan tinggal di desa Waility, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Sejak tahun 1986 Thomas lumpuh, kakinya tidak dapat digunakan untuk berjalan. Sehari-hari pekerjaan Thomas sebelum dia menjadi cacat adalah sebagai nelayan. Banyak pria di desa Waility adalah nelayan. Mereka mencari ikan di laut dan menjual hasil tangkapan mereka di pasar lokal. Sebagai akibat dari penyakit yang cacat, Thomas tidak bisa lagi bekerja sebagai nelayan. Tidak ada asuransi pekerja atau pelayanan sosial di desa Waility. Jadi mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya berhenti tiba-tiba dan tidak ada bantuan untuk sebuah keluarga dengan enam orang anggota keluarga. Tidak ada cukup makanan di meja dan anak-anak tidak bisa pergi ke sekolah.

Sampai sekarang, keluarga Thomas tidak tahu apa yang menyebabkan kelumpuhan itu. Layanan medis didesanya juga belum bisa mengetahui jenis penyakitnya. Suatu hari ketika ia bangun di pagi hari, ia tidak bisa menggerakkan kakinya. Keluarganya dan teman-teman membawa Thomas ke dokter dan rumah sakit lokal, tetapi sampai sekarang penyakit ini tidak dapat disembuhkan.

Pada tahun 1994, Thomas menikah dengan Fransiska. Dari pernikahan mereka, Thomas telah dikaruniai 5 anak. Tapi salah satu anaknya meninggal saat masih bayi, jadi sekarang ada 4 anak yang menjadi tanggung jawab mereka. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Thomas bekerja sebagai buruh tani di kebun sayur tetangganya. Dia melakukan kegiatannya dengan merangkak, karena kakinya tidak dapat digunakan. Fransiska, istrinya, membantu untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka dengan bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan membersihkan dan mencuci untuk mendapatkan uang untuk memberi makan keluarganya.

Melalui pelatihan pembuatan kebun bibit desa yang didanai oleh donor MicroAid pada tahun 2010, Fransiska telah menjadi inspirator bagi ibu-ibu di desa Waility untuk mengelola kebun sayur kubis. Pada awal 2011, Fransiska, istri Thomas mengambil alih peran suaminya sebagai pencari nafkah keluarga. Fransiska bersama dengan 6 wanita lain, tetangganya, mengelola bersama-sama kebun sayur yang ada di belakang rumah mereka. Awalnya Fransiska adalah seorang ibu rumah tangga yang mengisi waktunya merawat keluarganya, seperti kebanyakan ibu-ibu lainnya di desa.

Pembeli sayur kol datang langsung ke kebun sayur Fransiska untuk membeli semua hasil panen sayur kol

Sejak awal Juni 2011 lalu, mereka sudah melakukan panen sayur kol sebanyak 3 kali dengan rata-rata bisa menjual sekitar 2000 batang sayur kol setiap panen. Bahkan saat ini Fransiska tidak perlu lagi membawa sayurnya ke pasar di kecamatan, tetapi justru para pembeli yang datang ke kebun Fransiska dan langsung memborong semua sayur yang siap panen.

Setiap kali panen, Fransiska memperoleh pendapatan sekitar 600 ribu. Dengan pendapatan sebesar itu setiap bulannya, Fransiska bisa menyekolahkan 4 anaknya di sekolah negeri di desanya dan membeli buku-buku pelajaran. Tetapi kebutuhan hidup tidak hanya sampai disitu. Masih banyak keperluan lain untuk lebih meningkatkan kesejahteraan keluarga seperti Fransiska ini.

MicroAid Projects dengan metode pembelajaran keterampilan usaha sebagai pendekatan untuk memberdayakan kelompok keluarga miskin, mengajak Anda semua untuk memberi peluang besar bagi kelompok-kelompok keluarga miskin di Indonesia, Pakistan, India, Bangladesh, Kenya dan Uganda untuk belajar keterampilan baru yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga sehingga mereka bisa menyekolahkan anak-anaknya secara mandiri dan berkelanjutan.

Sekarang Thomas dan empat anak-anaknya membantu Fransiska menyirami dan membersihkan kebun keluarga setelah pulang dari sekolah. Mereka sangat berterima kasih kepada donor MicroAid yang telah memberikan mereka kesempatan untuk mempelajari keterampilan baru dan bagaimana membuat uang dari kebun sayur sehingga mereka dapat menemukan cara untuk memberantas kemiskinan mereka sendiri.

Sebuah bantuan kecil untuk masa depan yang lebih baik bagi satu keluarga miskin – MicroAid.

Terima kasih,

Thomas dan Fransiska


Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>